Tidak mesti warna kulit atau ras tertentu yang mengalami pelecehan seksual, bahkan di era digital saat ini tidak selalu manusia yang dilecehkan secara seksual. Cortana, asisten virtual di di platform Windows 10 tak luput menjadi objeknya.
Deborah Harrison, seorang penulis editorial di divisi Cortana dari Microsoft mengatakan Cortana yang memiliki suara perempuan itu ternyata menjadi objek dari pikiran kotor pengguna, seperti diungkap dalam DigitalTrends. Menurut Harrison, bahwa fitur bantuan mesin ini dibombardir dengan beberapa pertanyaan yang menjurus pelecehan.
Fakta ini memang tidak bisa ditampik, karena masalahnya bahwa sebagian besar suara AI (artificial inteligent) untuk fitur asisten digital menggunakan suara perempuan yang sangat menarik untuk didengar, di mana Cortana sendiri menggunakan pengisi suara Jen Taylor. Sementara wanita maya tersebut memang sangat jelas sosoknya adalah perempuan dan diwakili pula oleh avatar perempuan.
Selain asisten pribadi Microsoft Cortana, ada juga AI seperti Apple Siri dan Amazon Alexa. Bahkan di Hollywood, sistem operasi masa depan akan dideskripsikan menggunakan gerakan aktris Scarlett Johansson. Ya, AI di masa kini memang dirancang cerdas dan mampu berinteraksi secara sosial kepada pengguna perangkat.
Namun di luar isu stereotip gender AI yang menggunakan figur perempuan, fakta lainnya bahwa semua pengguna perangkat digital baik laki-laki atau perempuan, ternyata memang merasa nyaman asisten digital yang membantu mereka adalah seorang perempuan.
Ketika Cortana pertama kali diluncurkan pada tahun 2014, banyak pertanyaan awal yang menanyakan tentang kehidupan seksnya. Tapi sekarang, tim di belakang AI Cortana berjuang melawan. Cortana digambarkan sebagai seorang wanita sejati dari abad ke-21, dan dia tidak akan mau menjawab omong kosong apapun itu.
“Jika Anda mengatakan hal-hal tidak senonoh kepada Cortana, dia akan marah. Itu bukan jenis interaksi yang ingin kita dorong,” kata Harrison saat berbicara di forum Re•Work virtual assistant summit di San Francisco.
Untuk memerangi perilaku semacam ini, Harrison dan tujuh penulis Microsoft lainnya bertugas menyelesaikan pekerjaan yang menurut dia menarik, yaitu menentukan bagaimana Cortana merespon pertanyaan dengan sangat berhati-hati.
Ketika Cortana tidak dapat menemukan apa yang dicari pengguna biasanya dia akan meminta maaf terlebih dahulu, namun kalau yang ditanyakan adalah hal kotor, Cortana tidak akan terus-menerus meminta maaf. Dan menurut Harrison, itu semua keputusan yang dibuat oleh tim Microsoft secara sadar.
Microsoft dalam menciptakan asisten virtual berikut dengan sosok figurnya, percaya bahwa yang akan berbicara pada asisten virtual ini merupakan orang-orang dengan pekerjaan sungguhan. Maka keyakinan ini menjadi alasan tim Microsoft Cortana ini dapat melawan masalah pelecehan yang secara langsung dialamatkan kepada tim tersebut.
Wah Jerukers, maka berhati-hatilah dengan pertanyaan kamu ketika meminta bantuan asisten virtual di perangkat ya.
(JN/LS)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar